Breaking News

Pertamax dan Pertamina Dex Disesuaikan, Konsumen BBM Non-Subsidi Mulai Beralih

 
Sejumlah kendaraan mengantri di SPBU kawasan Kuningan, Jakarta (photo by liputan6)


JAKARTA, Suara Jatim – Penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax dan Pertamina Dex mulai berdampak terhadap pola konsumsi masyarakat di Jawa Timur. PT Pertamina Patra Niaga mencatat adanya pergeseran penggunaan BBM, dengan sebagian konsumen Pertamax beralih menggunakan BBM subsidi jenis Pertalite.

Area Manager Communication, Relations, dan CSR Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus, Ahad Rahedi, mengungkapkan bahwa perpindahan konsumsi tersebut berada pada kisaran 7 hingga 10 persen dari total pengguna Pertamax di wilayah Jawa Timur.

"Secara rata-rata di wilayah Jawa Timur terdapat peralihan konsumsi dari Pertamax ke Pertalite sekitar 7–10 persen," ujar Ahad dalam temu media di Surabaya, dikutip dari Antara, Rabu (8/7/2026).

Menurut Ahad, perubahan pola konsumsi paling banyak terjadi di kawasan perkotaan. Wilayah dengan aktivitas mobilitas tinggi dan kepadatan lalu lintas menjadi area yang paling terlihat mengalami pergeseran penggunaan BBM.

Meski terjadi peningkatan permintaan terhadap Pertalite, Pertamina memastikan ketersediaan stok BBM subsidi di lapangan masih dalam kondisi aman. Perusahaan telah melakukan sejumlah langkah antisipasi melalui perhitungan kebutuhan dan proyeksi perubahan perilaku konsumsi masyarakat.

Hasil kajian tersebut telah disampaikan kepada masing-masing wilayah dan pemerintah daerah sebagai bahan evaluasi bersama. Tujuannya untuk memastikan kecukupan pasokan BBM hingga akhir tahun 2026.

Penambahan Kuota Menjadi Kewenangan Pemerintah

Terkait kemungkinan adanya tambahan kuota BBM subsidi akibat peningkatan permintaan, Ahad menjelaskan bahwa keputusan tersebut bukan berada di tangan Pertamina.

Menurutnya, Pertamina hanya menjalankan tugas sebagai badan usaha yang menyalurkan BBM sesuai alokasi yang telah ditetapkan pemerintah pusat.

"Kami sudah mengantisipasinya. Namun kuota merupakan bagian dari penugasan pemerintah sehingga keputusan mengenai jumlah kuota yang dapat disalurkan di masing-masing wilayah tetap berada di tangan pemerintah pusat," jelas Ahad.

Untuk wilayah Jawa Timur, kuota BBM subsidi hingga akhir tahun 2026 telah ditetapkan sebesar 2,47 juta kiloliter (KL) untuk Biosolar. Sementara kuota Pertalite berada pada angka 3,96 juta KL.

Pertamina Patra Niaga memastikan akan terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan konsumsi BBM masyarakat, khususnya setelah adanya perubahan harga BBM non-subsidi. Evaluasi berkala dilakukan untuk menjaga distribusi tetap berjalan sesuai kebutuhan dan ketentuan pemerintah.

Perusahaan juga mengimbau masyarakat agar menggunakan BBM sesuai peruntukan serta mengikuti aturan yang berlaku dalam pembelian bahan bakar subsidi.(red/lis)

0 Comments

© Copyright 2022 - SUARA JATIM