Breaking News

Angin Monsun Kering Melanda Jatim, Pasuruan Berpotensi Alami Kemarau Intens

 
RAWAN: Puncak kemarau berisiko terjadinya kekeringan dan kebakaran. BMKG pun memberikan peringatan, akan adanya risiko tersebut(photo by radar bromo)


 Pasuruan, SUARA JATIM - Wilayah Pasuruan mulai memasuki fase puncak musim kemarau. Kondisi cuaca dalam beberapa waktu terakhir didominasi oleh langit cerah dengan peluang hujan yang sangat rendah. Situasi tersebut membuat masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kekeringan meteorologis serta potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Prakirawan Stasiun Meteorologi Juanda Sidoarjo, Rendy Irawadi, menjelaskan bahwa kondisi atmosfer saat ini belum mendukung terbentuknya awan hujan di wilayah Jawa Timur, termasuk Kabupaten dan Kota Pasuruan.

Menurutnya, sejumlah faktor iklim global maupun regional masih menunjukkan kondisi yang relatif netral sehingga belum mampu meningkatkan aktivitas pembentukan awan konvektif penyebab hujan. Salah satunya terlihat dari indeks ENSO yang berada pada angka +1,11, sementara fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) dan Madden-Julian Oscillation (MJO) masih belum memberikan pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan awan hujan.

BMKG Juanda memprediksi hingga pertengahan Juli 2026 belum terdapat gangguan atmosfer besar yang berpotensi memicu hujan secara merata di Jawa Timur.

"Meskipun suhu muka laut di sekitar Selat Madura masih memberikan tambahan uap air, jumlahnya belum cukup untuk mendorong pembentukan awan hujan dalam cakupan luas," jelas Rendy.

Kondisi kemarau di Pasuruan juga semakin diperkuat oleh aktivitas angin monsun timuran yang bertiup cukup kencang. Angin yang bergerak dari arah timur hingga tenggara tersebut tercatat memiliki kecepatan mencapai 23 knot dan membawa massa udara kering dari wilayah Australia.

"Fenomena ini menjadi indikator kuat bahwa Jawa Timur sedang berada dalam periode kering yang cukup intens," tambahnya.

Menghadapi kondisi tersebut, BMKG mengimbau masyarakat Pasuruan untuk mulai melakukan penghematan penggunaan air bersih, terutama di wilayah yang berpotensi mengalami keterbatasan sumber air.

Selain menjaga ketersediaan air, warga juga diminta memperhatikan kondisi kesehatan akibat paparan cuaca panas. Masyarakat diingatkan untuk mengurangi aktivitas di bawah terik matahari dalam waktu lama serta mencukupi kebutuhan cairan tubuh.

BMKG juga mengingatkan agar warga tidak melakukan pembakaran sampah sembarangan maupun membuang puntung rokok di area terbuka. Kondisi lahan yang kering selama musim kemarau dapat membuat api mudah menyebar dan meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan maupun lahan.(red/lis)

0 Comments

© Copyright 2022 - SUARA JATIM