Breaking News

BPBD Kediri: Pusaran Debu Saat Musim Kemarau Bukan Puting Beliung, Warga Diminta Waspada Debu

lahan lapang yang rawan debu ketika tertiup angin.(photo by radar kediri)


KEDIRI, – Musim kemarau yang mulai berlangsung di Kabupaten Kediri tidak hanya meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), tetapi juga memunculkan fenomena pusaran debu yang kerap terlihat di lahan terbuka maupun area bekas panen tebu.

Meski sekilas menyerupai angin puting beliung, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kediri memastikan fenomena tersebut hanyalah pusaran angin kecil atau lesus mini yang tidak memiliki kekuatan merusak.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kediri, Stefanus Djoko Sukrisno, menjelaskan pusaran debu itu terbentuk ketika embusan angin mengangkat debu dari permukaan tanah yang kering akibat cuaca panas.

"Fenomena yang terlihat di lahan pertanian bukan puting beliung maupun lesus besar. Itu hanya hembusan angin kecil yang mengangkat debu sehingga membentuk pusaran sesaat," jelas Djoko.

Ia menambahkan, angin lesus yang berpotensi berkembang menjadi puting beliung justru lebih sering muncul pada masa pancaroba, saat terjadi perubahan tekanan udara akibat peralihan musim hujan ke kemarau atau sebaliknya.

Sementara pada musim kemarau, angin kencang yang berpotensi menimbulkan kerusakan relatif lebih jarang terjadi.

Meski tidak membahayakan, BPBD tetap mengimbau masyarakat agar memperhatikan kondisi kesehatan ketika beraktivitas di luar ruangan. Debu yang beterbangan saat cuaca kering berisiko mengganggu saluran pernapasan maupun kesehatan mata, terutama bagi petani dan warga yang banyak bekerja di area terbuka.

Penggunaan masker dan pelindung mata disarankan apabila kondisi lingkungan cukup berdebu guna mengurangi risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) maupun iritasi mata.

Selain memantau fenomena pusaran debu, BPBD juga terus mengawasi potensi dampak musim kemarau lainnya, seperti kekeringan dan krisis air bersih.

Hingga pertengahan Juli 2026, BPBD mencatat belum ada laporan kekurangan air bersih dari wilayah Kabupaten Kediri.

Wilayah yang sebelumnya kerap mengalami kesulitan air, seperti Desa Ponggok, Kecamatan Mojo, kini dinilai lebih aman setelah tersedianya jaringan pipa dari sumber mata air baru.

Sementara itu, di Desa Sepawon, Kecamatan Plosoklaten, jaringan pipa yang sebelumnya rusak akibat kebakaran telah selesai diperbaiki sehingga pasokan air kembali normal.

"Sejauh ini belum ada laporan kekeringan. Mudah-mudahan kondisi tersebut tetap terjaga hingga musim kemarau berakhir," ujar Djoko.

Sebagai langkah antisipasi apabila kebutuhan air bersih meningkat, BPBD telah menyiapkan dua armada mobil tangki untuk mendistribusikan air kepada masyarakat. Dukungan juga disiapkan bersama PMI, PDAM, serta instansi terkait lainnya jika sewaktu-waktu diperlukan.

Di sisi lain, BPBD telah mengedarkan surat kepada seluruh camat di Kabupaten Kediri agar mengingatkan masyarakat tidak membakar lahan, sampah maupun membuang puntung rokok sembarangan. Langkah tersebut dilakukan untuk menekan risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau.

Djoko menegaskan, selain ancaman karhutla, masyarakat juga perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak debu yang dapat memengaruhi kesehatan.

"Kami mengimbau masyarakat tetap menjaga kesehatan, terutama saat beraktivitas di luar ruangan yang berdebu. Gunakan masker bila diperlukan dan hindari tindakan yang dapat memicu kebakaran lahan," pungkasnya.(red/lis)


0 Comments

© Copyright 2022 - SUARA JATIM