Breaking News

Adaptasi Hidup di Asrama, Siswa Sekolah Rakyat Kediri Mulai Lawan Rasa Rindu Rumah

Bupati Hanindhito Himawan Pramana (baju batik) bersama Kapolres Kediri AKBP Bramastyo Priaji dan Dandim 0809 Letkol Inf Dhavid Nur Hadiansyah berdialog dengan siswa Sekolah Rakyat Kabupaten Kediri bersama pejabat forkopimda lainnya.(photo by radar kediri)


KEDIRI
– Ratusan peserta didik Sekolah Rakyat (SR) di Kediri Raya resmi memulai Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pada Senin (14/7). Selain mengikuti rangkaian orientasi, para siswa yang tinggal di asrama juga mulai beradaptasi dengan kehidupan baru, termasuk belajar mandiri jauh dari keluarga.

Bagi sebagian siswa sekolah dasar, malam pertama di asrama menjadi pengalaman yang tidak mudah. Rasa rindu kepada orang tua membuat beberapa di antaranya kesulitan beristirahat.

Salah satunya dialami Adiba (7), siswi asal Kelurahan Bandarlor, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. Ia mengaku sempat tidak bisa tidur pada malam pertama karena baru kali itu harus tinggal jauh dari kedua orang tuanya.

Meski demikian, Adiba berusaha menguatkan diri setelah mendapat nasihat dari keluarganya agar tidak merasa takut selama berada di Sekolah Rakyat.

"Kata orang tua tidak boleh takut. Kan sama seperti mondok," ujarnya polos.

Tekad untuk belajar mandiri pun mulai tumbuh. Adiba mengaku siap menjalani hari-harinya di Sekolah Rakyat bersama teman-teman barunya.

Pengalaman serupa dialami Nayla (6). Namun, rasa cemas yang dialaminya berhasil teratasi setelah ditemani tidur oleh wali asrama hingga akhirnya dapat beristirahat dengan tenang.

Di Sekolah Rakyat Kota Kediri, siswa jenjang SD tinggal bersama dalam kamar berkapasitas 12 anak dengan fasilitas tempat tidur bertingkat (bunk bed). Suasana kebersamaan mulai terlihat sejak hari pertama. Sambil menunggu jadwal kegiatan, mereka bermain bersama teman sekamar, bercengkerama, hingga berlarian di area aula.

Selain pengenalan lingkungan sekolah, seluruh peserta juga menjalani pemeriksaan kesehatan sebagai bagian dari tahapan awal sebelum aktivitas belajar dimulai.

Penanggung Jawab Program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) Puskesmas Campurejo, Asna Nurkholida, menjelaskan bahwa pemeriksaan dilakukan terhadap seluruh 222 siswa untuk mendeteksi secara dini kemungkinan adanya gangguan kesehatan, terutama penyakit menular.

"Tujuannya agar apabila ditemukan penyakit menular, tidak sampai menyebar kepada siswa lainnya," jelasnya.

Pemeriksaan meliputi skrining tuberkulosis (TBC), penyakit kulit seperti scabies, pemeriksaan status gizi, tinggi dan berat badan, kesehatan mata, telinga, gigi dan mulut, hingga pengukuran tekanan darah.

Apabila ditemukan siswa yang terindikasi mengalami penyakit menular, pihak sekolah telah menyiapkan mekanisme isolasi sementara dengan menempatkan siswa di kamar khusus hingga kondisinya dinyatakan pulih.

"Kalau memang ditemukan penyakit menular, siswa akan ditempatkan di ruang tersendiri sampai benar-benar sehat," tambah Asna.

Sementara itu, pelaksanaan MPLS di Sekolah Rakyat Kabupaten Kediri juga mendapat perhatian langsung dari Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana bersama Wakil Bupati Dewi Mariya Ulfa. Didampingi jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), keduanya meninjau berbagai fasilitas yang telah disiapkan, mulai dari asrama, kamar mandi, ruang belajar hingga sarana pendukung lainnya.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati yang akrab disapa Dhito mengingatkan bahwa keberhasilan sekolah berasrama tidak hanya ditentukan oleh proses pembelajaran, tetapi juga oleh kualitas pelayanan terhadap kebutuhan sehari-hari para siswa.

Menurutnya, berbagai persoalan yang terlihat sederhana justru kerap menjadi penentu kenyamanan penghuni asrama, seperti kualitas makanan, pengelolaan sampah, hingga kesiapan pasokan listrik ketika terjadi gangguan.

"Problem boarding school biasanya ada di hal-hal minor. Makanan, sampah, listrik kalau mati bagaimana. Hal-hal seperti itu yang harus benar-benar diperhatikan," tegasnya.

Dhito berharap Sekolah Rakyat mampu menjalankan amanat pemerintah pusat sebagai sarana pemerataan akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga yang membutuhkan.

Ia juga mengajak para orang tua untuk mempercayakan pendidikan putra-putrinya kepada pemerintah. Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Kediri bersama pemerintah pusat akan terus berkolaborasi agar program tersebut berjalan optimal.

Dalam kunjungannya, Dhito juga menyempatkan berbincang dengan salah seorang siswa SD bernama Ahmad Ali Nur Arifin. Saat ditanya apakah merindukan rumah, bocah berusia tujuh tahun itu hanya menjawab singkat bahwa dirinya belum tahu. Begitu pula ketika ditanya mengenai cita-cita, Ahmad mengaku belum memiliki gambaran.

Bagi Dhito, kepolosan tersebut merupakan hal yang wajar mengingat anak-anak masih berada pada tahap awal beradaptasi dengan kehidupan di asrama. Ia optimistis siswa sekolah dasar akan mampu menyesuaikan diri, sementara perhatian lebih perlu diberikan kepada peserta didik jenjang SMP dan SMA yang sedang berada dalam fase pencarian jati diri.

"Saya selalu percaya tidak ada anak yang bodoh. Yang ada hanyalah guru yang belum menemukan metode yang tepat untuk mengajarkan anak tersebut," ujarnya.

Sebagai penutup, Dhito meminta seluruh unsur yang terlibat dalam penyelenggaraan Sekolah Rakyat segera berkoordinasi apabila menemui kendala di lapangan. Menurutnya, keberhasilan program tersebut hanya dapat diwujudkan melalui sinergi seluruh pemangku kepentingan.

"Seluruh stakeholder hadir untuk memastikan bahwa program ini bukan sekadar berjalan, tetapi benar-benar menjadi program yang berhasil dan memberi manfaat bagi anak-anak," pungkasnya.(red/lis)

0 Comments

© Copyright 2022 - SUARA JATIM