SURABAYA-Ratusan peternak ayam petelur dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Timur menggelar aksi unjuk rasa untuk memprotes anjloknya harga telur di tingkat peternak. Massa yang tergabung dalam Paguyuban Peternak Rakyat Indonesia (Paterain) itu menilai harga jual telur saat ini jauh di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) yang telah ditetapkan pemerintah sebesar Rp26.500 per kilogram.
Menurut para peternak, kondisi tersebut membuat usaha mereka semakin tertekan. Pendapatan terus menurun, sementara biaya produksi, terutama harga pakan, obat-obatan, dan perawatan ayam petelur, justru terus mengalami kenaikan. Akibatnya, banyak peternak rakyat kesulitan menutup biaya operasional dan terancam mengalami kerugian berkepanjangan.
Ketua Paterain Jawa Timur, Muhamad Ali, mengungkapkan salah satu penyebab lemahnya harga telur adalah belum optimalnya penyerapan produksi peternak oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Jawa Timur. Padahal, program pemerintah tersebut diharapkan dapat menjadi pasar yang mampu menyerap hasil produksi peternak rakyat.
Karena itu, pihaknya meminta DPRD Jawa Timur ikut memperjuangkan perlindungan terhadap peternak rakyat agar tidak kalah bersaing dengan korporasi besar. Selain itu, mereka mendesak pemerintah menjamin ketersediaan pakan dengan harga terjangkau serta memperkuat posisi telur sebagai salah satu komoditas pangan pokok yang harus mendapat perlindungan.
"Kami mendorong adanya transparansi dalam tata niaga pakan serta meminta pemerintah memperluas penyerapan telur hasil produksi peternak rakyat melalui seluruh program pemerintah," tegas Muhamad Ali.
Dalam aksi tersebut, para demonstran membawa berbagai poster berisi tuntutan. Beberapa di antaranya bertuliskan "Harga telur hancur, peternak ikut hancur", "Peternak rakyat menjerit", "Stop permainan harga telur", hingga "Telur murah, peternak merana". Poster-poster tersebut menjadi simbol kekecewaan peternak terhadap kondisi pasar yang dinilai tidak berpihak kepada mereka.
Di sela aksi, Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Dardak, menyempatkan diri menemui massa meski saat itu masih mengikuti agenda sidang paripurna DPRD Jawa Timur. Dalam dialog dengan para peternak, Emil mengakui industri ayam petelur saat ini memang sedang menghadapi persoalan serius akibat kelebihan pasokan (over supply), sehingga harga telur di pasaran mengalami tekanan.
Ia juga menyinggung komitmen penyerapan telur melalui program ketahanan pangan dan Badan Gizi Nasional (BGN) yang dijadwalkan berlangsung setiap dua pekan. Namun, pelaksanaannya di lapangan dinilai belum optimal karena tingkat kepatuhan mitra pelaksana dan SPPG masih beragam.
"Termasuk janji penyerapan dari program ketahanan pangan dan BGN setiap dua minggu sekali, ternyata kepatuhan mitra dan SPPG masih bervariasi. Kami siap menyampaikan agar diberikan teguran keras kepada pihak-pihak yang tidak menjalankan komitmen tersebut," ujar Emil.
Peternak berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menstabilkan harga telur, memperluas penyerapan hasil produksi peternak rakyat, serta menciptakan tata niaga yang lebih adil agar usaha peternakan rakyat tetap dapat bertahan di tengah tekanan biaya produksi yang terus meningkat.(red/lis)
0 Comments